Efek Domino Mahalnya Harga Minyak Goreng Saat Ini
Sebagian masyarakat
tentu menggunakan minyak sebagai alat untuk mematangkan aneka masakannya. Bahka
terakhir survey yang dlakuakn setiap lima taun sekali yakni tepatnya pada tahun
2020 oleh Survey Sosial Ekonomi Sosial (SUSENAS) pengguna konsumsi minyak goreng
tembus 11,58 Liter/kapita/pertahun. Merujuk dari survey tersbut, tentu ini
merupakan salah satu informasi yang menarik. Hal ini dikarenakan minyak gorek
merupakan salah satu produk unggulan yang dimilki oleh Indonesia terutama dari
segi produksinya yang begitu besar.
Berkaitan dengan hulu
dari minyak goreng itu sendiri. Melimpahnya Minyak Sawit (CPO) sebagai komoditi
minyak goreng dan bahan lainya tentu ini bisa menjadi alat untuk mengenjot
pendapatan negara lewat kebijakan ekspornya. Pada tahun 2020 Ekspor minya sawit
tersebut mencapai 27.326.1 ton. Akumulasi setiap tonnya di pangsa pasar dunia
mencapai RM 3956/Ton.
Pada waktu itu, sebelum
kebijakan tersebut diberlakukan. Pada
tahun 2020 Ekspor ke Uni Eropa menembus angka 5,13 juta Ton atau dengan value
keselurahan mencapai US 2,69 Miliar. Tentu hasil tersbut dapat
memberikan cadangan devisa lebih terhadap Negara Indonesia.
Namun di tahun ini
tepatnya pada tahun 2022. Ekspor CPO (Crude Palm Oil) yang dilakukan oleh
Indonesia tidak akan sebesar dua tahun belakangnya. Hal ini dikarenakan
mengingat kebijakan baru yang dilakukan oleh Kelompok Negara-Negara Eropa yang
tergabung dengan blok Uni Eropa yang tidak lagi mengimpor CPO asal Indonesia. Hal ini dilakukan dengan alasan lingkungan.
Akibat kebijakan itu,
Masyarakat Indonesia mengalami sebuah Efek Domino atas kebijakan tersebut. Hal
ini dikareanakan seperti yang disebutka oleh Stronge bahwa efe domino merupakan salah satu akibat dari seuatu
hal yang berjatuhan seperti layaknya sebuah kartu domino yang menyambung dari
satu pangkal ke pangkal yan lainnya. Inilah yang membuat harga minyak goreng
saat ini ditataran masyarakat menjadi sagat tinggi yakni kisaran
RP.28.000/Liter ditangan masyarakat atau konsumen utama. Hal ini tidak lain
sebagai peran pengganti agar keuntungan yang selama ini didaptkan dari Ekspor
ke Negara Uni Eropa dapat dikejar devisitnya. Adanya harga yang melambung
itulah. Banyak masyarakat yang merasa keberatan teruma di masyarakat kalangan
bawah.
Hal ini berbanding
terbalik dengan efek bola salju yang ada di lingkungan pengusaha. Karena
semakin sukses usaha yang digeluti, maka kepopuleran usaha tersbut akan semakin
tinggi. Bahkan promosi yang dilakukan akan memiliki kaitan secara langsun tanpa
dilakuka oleh orang yang memilki usaha tersebut. Dalam konteks minyak gorek.
Efek bola salju yang terbentuk ialah semakin minyak goren sampai ke masyarakat,
harganya semakin mahal. Tentu ini merupakan sesuatu yang harus diatasi karena data
menimbulkan suatu inflasi yang bisa meningkatkan harga komoditi yang lainnya.
Jika hal tersbut terjadi, tidak menutup kemungkinan angka konsumsi masyarakat
menjadi menurun dan kesejahteraan hidup juga bisa dikatakan menurun dari yang
sebelumnya. Hal inilah yang dapat dikatakan angka kemiskinan suatu negara
menjadi meningkat.